Kamis, 19 November 2015

Ceritanya

Jangan Mementingkan Diri Sendiri


     Setiba di rumah, pak tani dan istrinya segera membuka bungkusan yang baru dibelinya di pasar. Ketika itu seekor tikus mengintip dari celah dinding kayu. Tikus mengira pak tani itu membeli mainan. Ternyata bukan, petani itu membeli sebuah perangkap tikus. Tikus itu pun berlari sambil berteriak-teriak: "Awas ada perangkap tikus di dalam rumah! Awas ada perangkap tikus di dalam rumah!" Tikus itu terus berteriak sambil berlari di sekitar rumah pak tani. 

     Tikus itu berlari di dekat kandang ayam. Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruki tanah, mengangkat kepalanya dan berkata: "Ya, maafkan aku pak Tikus. Aku tahu memang ini masalah besar bagi kamu, tetapi buatku tidak ada masala. Jadi, kenapa aku mesti pikirkan?" 
     Tikus berbalik dan menuju ke arah kandang kambing. Tikus itu berlari sambil berteriak: "Ada perangkap tikus di dalam rumah. Ada perangkap tikus di dalam rumah!"

     "Aku menyesal mendengar kabar ini." Sikambing menghibur dengan penuh simpati. "Tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berdoa untukmu. Semoga kau selamat.!"
     Tikus itu kemudian berbelok menuju kandang lembu. "Oh! Sebuah perangkap tikus? Jadi saya dalam bahaya besar, ya?" Kata lembu sambil tertawa, berleleran air liur. Tikus itu kembali ke rumah  dengan kepala tertunduk dan merasa begitu kesal dan sedih. Ia terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian. Ia merasa sungguh-sungguh sendiri.

     Malam pun tiba. Terdengar suara berisik dari dalam rumah, seperti bunyi perangkap tikus itu berhasil menangkap mangsa. Istri petani bergegas melihat apa yang terperangkap. Dalam kegelapan itu Ia tidak bisa melihat bahwa yang terperangkap adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat mematok tangan istri petani. Tidak beberapa lama, tubuh istri petani menggigil kedinginan. Pak petani bergegas membawa istrinya ke rumah sakit. Walau sudah mendapat pertolongan, tubuh istri petani itu masih menggigil, demam. Sudah menjadi kebiasaan di daerah setempat, setiap orang sakit demam, obat pertama yang diberikan adalah sup ayam hangat. Pak tani itu segera mengasah pisau dan pergi ke kandang, mencari ayam untuk bahan supnya.

    Namun sayang, bisa ular itu sangat kuat. Istri petani itu tak kunjung sembuh. Banyak tetangga datang membesuk ke rumahnya. Untuk menghormati tamunya, pak tani menghidangkan gulai kambing. Walau sudah berupaya sedemikian rupa, istri petani itu belum sembuh juga. Ternyata bisa ular itu tak dapat ditaklukkan. Barangkali sudah menjadi takdir, istri pak tani itu akhirnya meninggal. Para tetangga berdatangan mengurus pemakaman dan upacar selamatan. 

(Sumber: Iphincow.com dengan sedikit perubahan)